Khotbah 02 Juni 2019

Khotbah 0

Keluarga yang kokoh

Efesus 5:22 – 27   Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Setiap Orang yang ingin membangun keluarga atau membangun rumah tangga pasti ingin keluarganya mengalami kebahagiaan, kuat dan kokoh dalam setiap tantangan dan mencapai tujuan akhir hidup yaitu masuk surga bersama-sama. Suami sebagai kepala keluarga menempatkan diri sebagai posisi yang sebenarnya menjadi imam, menjadi nabi dan raja, memimpin keluarga untuk dekat sama Tuhan, menjadi sumber dalam segala hal. Istri menjadi penolong, penopang, menjadi ibu yang baik yang taat dan tunduk sama suami, mendidik anak-anak dalam segala hal. Anak-anak menjadi sebuah anggur yang membawa sukacita dalam keluarga, takut akan Tuhan, dan hormat kepada orang tua, pasti rumah tangga itu akan kuat dan kokoh.

 

Syarat untuk menjadi keluarga yang kuat :

  1. Suami istri sama-sama mengasihi Tuhan Yesus.
    (Matius 7:24-27 , Mazmur 127:1-2)
  2. Memiliki visi yang sama.
    Visi yang sama akan membuat tujuan yang sama. Tujuan yang sama akan membuat arah yang sama. Kalau ada seseorang pasangan bertanya, mau dibawa kemana hubungan ini? Berarti suatu pertanyaan timbul, waktu mau membangun keluarga berarti anda tidak punya visi dalam membangun rumah tangga. Bangunlah suatu pondasi yang kuat sebelum saudara memulai membentuk suatu keluarga, pastikan dasarnya adalah Kristus dan Firman Allah.
  3. Memiliki quality time bersama.
    Jangan hanya pada saat pacaran aja lengketnya bukan main kayak perangkat, kemana-mana selalu berdua, menyelesaikan masalah berdua, namun setelah menikah, punya anak-anak, sekarang senangnya sendiri-sendiri, kemana-kemana sendiri.. Suami, engkau harus punya waktu bersama keluargamu, engkau harus sering sering mengatur waktu bersama istri dan anak-anak, makan bareng, jalan-jalan, dan sebagainya. Disitu akan terbangun cinta kasih dan kerharmonisan, sehingga keluarga itu akan kuat dan tidak mudah digoyahkan. Ingat, kepada Hawa tergoda sama si ular itu? Karena pada saat itu Adam tidak sedang bersama dengan Hawa, hati hati dengan perpisahan, banyak godaan diluar sana.

Dampak dari keluarga yang kokoh :

  1. Menjadi sehati (Mat 18:19)
  2. Saling mengampuni
  3. Selalu mengucap syukur senantiasa
  4. Dapat menggenapi destiny illahi dalam hidup mereka.

 

(Ringkasan Khotbah IR Minggu, 2 Juni 2019, Bpk Pdm. Antonius Toni S.Th)

Tags:
Rate this article!
Khotbah 02 Juni 2019,3.50 / 5 ( 2votes )
author

Author: 

Related Posts